22/01/15

Berbagai macam rasa takut (Phobia)



        Tidak terasa sudah memasuki Tahun Baru, saya ingin mencoba nge-post lagi artikel lain. Sebelum manusia lahir ke dunia, tentu sempat mengalami alam kehidupan lain di perut yang mengandungnya (rahim ibu kandungnya), untuk peradaban modern sekarang, bayi tabung sudah banyak dijumpai. Yang saya prioritaskan adalah manusia yang lahir dari rahim ibunya, yaitu yang mengalami kehidupan dalam kandungan, dimana sang bayi merasa aman, nyaman, karena selain mendapatkan perhatian (extra), kasih sayang yang lebih, atau istilah psikologinya adalah afeksi, perlindungan atau proteksi, gizi atau nutrisi, yang semua itu dicurahkan oleh seorang ibu pada anaknya. Dan bahkan sampai bayi lahirpun kasih sayang, perhatian dan semua yang disebutkan tadi masih terus berlanjut.
         Tema yang saya kemukakan, sebenarnya bukan tentang bayi dan ibu hamil, hanya saja alur dari artikel ini untuk mengaitkan antara apa yang akan dibahas dengan objek yang dijadikan bahan pembicaraan, kurang lebih begitu pembaca. Singkatnya, ada kaitan dengan seseorang sebagai manusia atau pribadi yang memiliki perasaan, setelah dia lahir dan tumbuh menjadi dewasa, (setelah melalui masa kanak-kanak terlebih dahulu tentunya). Setiap orang dari masa kanak-kanak. remaja hingga dewasa secara psikologis masih membutuhkan perhatian dari orang tuanya, dan ini berkaitan dengan tumbuh kembang anak.. Kestabilan emosi yang dilalui secara bertahap. Dengan mendapatkan kasih saying yang cukup, bahkan sebagian ada yang lebih, namun dengan positif, harmonis (dalam sebuah keluarga), ini sudah mendekati sempurna, bagi keluarga yang utuh, mohon maaf saya tidak mendiskreditkan keluarga “broken” atau keluarga yang mengalami keretakan, toh jika pola pengasuhan positif misalnya, pada anak yang diasuh orang tua angkat, melalui Yayasan penitipan anak atau Panti Asuhan yang ditanamkan disiplin tetap saja dapat membentuk karakter yang baik di kemudian hari. Berkaitan dengan perkembangan emosi pada seseorang, berkaitan dengan rasa aman, nyaman cukupnya kasih saying, pada dasarnya keharmonisan, kebahagiaan tidak dapat dipungkiri merupakan dambaan baik anak maupun orang tuanya. Bertolak dari pembahasan tentang pribadi seseorang pada akhirnya pembentukkan karakter atau watak ini saya persempit lagi menjadi kecakapan emosi pada pribadi seseorang. Untuk mempersingkat lagi, tema yang saya maksud adalah yang berkaitan dengan perasaan yang berkaitan dengan kejiwaan yaitu perasaan takut !. Ya takut adalah suatu perasaan yang dialami oleh sebagian besar manusia penghuni planet bumi ini.

Phobia (Fobi atau Fobia)
    Menurut kamus umum : Phobia : an extreme or irrational fear of or aversion to something.
(ketakutan ekstrim atau irasional atau keengganan untuk sesuatu.)
      berikut ini akan saya uraikan lebih detail mengenai pengertian phobia ini.
(Sumber : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

            Fobia (gangguan anxietas fobik) adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya. Ada perbedaan "bahasa" antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus


       Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia, subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan.
Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek Fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrem seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya.
Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber Fobia secara otomatis akan merasa cemas dan agar "nyaman" maka cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan cara "mundur kembali"/regresi kepada keadaan fiksasi. Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek fobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, “pola” respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita fobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak produktif. Fobia merupakan salah satu dari jenis jenis hambatan sukses lainnya.

Fobia sosial dan fobia spesifik
Fobia sosial dikenal juga sebagai gangguan anxietas sosial, fobia sosial adalah ketakutan akan diamati dan dipermalukan di depan publik. Hal ini bermanifestasi sebagai rasa malu dan tidak nyaman yang sangat berlebihan di situasi sosial. Hal ini mendorong orang untuk mengindari situasi sosial dan ini tidak disebabkan karena masalah fisik atau mental (seperti gagap, jerawat atau gangguan kepribadian).[1]
Fobia spesifik ditandai oleh ketakutan yang tidak rasional akan objek atau situasi tertentu. Gangguan ini termasuk gangguan medik yang paling sering didapati, namun demikian sebagian kasus hanyalah ringan dan tidak perlu mendapatkan pengobatan. Pada fobia terjadi salah-pindah kecemasan pada barang atau keadaan yang mula-mula menimbulkan kecemasan itu. Jadi terdapat dua mekanisme pembelaan, yaitu salah-pindah dan simbolisasi.[1] Ada banyak macam fobia yang dinamakan menurut barang atau keadaan. Apabila berhadapan dengan objek atau situasi tersebut, orang dengan fobia akan mengalami perasaan panik, berkeringat, berusaha menghindar, sulit untuk bernapas dan jantung berdebar. Sebagian besar orang dewasa yang menderita fobia menyadari bahwa ketakutannya tidak rasional dan banyak yang memilih untuk mencoba menahan perasaan anxietas yang hebat daripada mengungkapkan gangguannya.[1]





Istilah
Beberapa istilah sehubungan dengan fobia :
  • afrophobia - ketakutan akan orang Afrika atau budaya Afrika.
  • agoraphobia - takut pada lapangan
  • antlophobia - takut akan banjir.
  • bibliophobia - takut pada buku
  • caucasophobia - ketakutan akan orang dari ras kaukasus.
  • cenophobia - takut akan ruangan yang kosong.
  • claustrophobia - takut akan ruang sempit seperti lift.
  • dendrophobia - takut pada pohon
  • ecclesiophobia - takut pada gereja
  • felinophobia - takut akan kucing
  • genuphobia - takut akan lutut
  • hydrophobia - ketakutan akan air.
  • hyperphobia - takut akan ketinggian
  • iatrophobia - takut akan dokter
  • japanophobia - ketakutan akan orang jepang
  • lygopobia - ketakutan akan kegelapan
  • necrophobia - takut akan kematian
  • panophobia - takut akan segalanya
  • photophobia - ketakutan akan cahaya.
  • ranidaphobia - takut pada katak
  • schlionophobia - takut pada sekolah
  • uranophobia - ketakutan akan surga
  • xanthophobia - ketakutan pada warna kuning
  • arachnophobia - ketakutan pada laba-laba
  • lachanophobia - ketakutan pada sayur-sayuran
  • tripofobia - ketakutan akan lubang yang banyak
     Nah pembaca, phobia atau rasa takut itu, sudah terjadi sejak zaman dulu, tetapi yang penting kita harus takut kepada Sang pencipta (Alloh SWT), terutama takut akan dosa-dosa yang telah kita perbuat. Oh ya, barangkali diantara anda pembaca, ada yang mengalami salah satu dari phobia yang telah dicantumkan diatas ?. Wallohu alam …, semoga bermanfaat.